Ancaman Integrasi di Era Reformasi

Share Button

Harus diakui bahwa pada era reformasi Integrasi Nasional kita secara utuh atau bulat masih jauh dari ideal. Apabila selama era reformasi ini masih belum dirasakan adanya perubahan yang signifikan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila, seyogyanya kita mencoba untuk mengevaluasi kinerja bangsa ini selama era reformasi itu dijalani.

Sepanjang perjalanan reformasi, kita mengalami pergantian Presiden dengan pemerintahan yang berganti-ganti sebanyak empat kali. Mulai pemerintahan Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudoyono saat ini. Masing-masing mengklaim bahwa langkah-langkah yang dilakukan pemerintahannya telah menghasilkan berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan reformasi. Ironisnya, seberapa pun kuatnya klaim-kliam keberhasilan yang dikatakan oleh tiap-tiap  pemerintahan selama kekuasaannya itu, tetap mengundang arus yang menentang dan tidak mengakui keberhasilan itu.

Bahkan , era reformasi mengalami kemunduran karena KKN bertambah marak dan kondisi keamanan tidak menentu. Mereka mengatasnamakan masyarakat tertentu dengan berbagai cara , mulai dengan cara yang santun konstitusional dan cara-cara brutal non konstitusional yang membuat krisis di berbagai aspek kehidupan. Konflik komunal merebak dimana-mana. Wacana mengganti ideology Pancasila muncul dan gerakan separatiseme bersenjata yang tidak kunjung akhir.

Kondisi demikian sering dikatakan sebagai kondisi transisi dalam rangka menemukan bentuk ideal menurut pemahaman tiap-tiap komponen bangsa yang dianggap sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 serta nilai-nilai luhur Pancasila. Ironisnya adalah justru bangsa ini terperangkap dalam eforia “kebablasan” , serta kondisi baru yang penuh dengan berbagai konflik pada elite dan akar rumput.

Kondisi itulah yang menyebabkan kita berhadapan dengan ancaman baru era Reformasi , berupa tajamnya perbedaan dalam memahami dan melaksanakan reformasi itu. Ujung-ujungnya adalah pemaksaan kehendak , menempuh berbagai cara sampai dengan menghalalkan segala cara yang mengancam integrasi nasional.

 

Nasionalisme Lemah

Pada era reformasi ini kita menghadapi masalah serius akan kualitas nasionalisme. Pada awal reformasi ini yang terjadi adalah berbagai perbedaan tajam yang menghasilkan berbagai bentuk konflik yang mengancam disintegrasi bangsa yang menggambarkan rendahnya kualitas nasionalisme bangsa ini.

Justru ketika berkesempatan mereformasi diri, bangsa ini menjadi begitu lemah nasionalismenya. Pada era reformasi nasionalisme etnisitas dan golongan merebak. Pendek kata, pada era reformasi integrasi nasional dan nasionalisme kita terancam. Oleh karena itu, kewaspadaan yang dibangun adalah kewaspadaan terhadap berbagai bentuk dan kenis ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri.

Era reformasi seharusnya merupakan suatu era tekad mengembalikan tata kehidupan kepada nilia-nilia luhur Pancasila, terciptanya kesatuan kata dan perbuatan, tumbuh berkembangnya demokratisasi dan terwujudnya masyarakat madani termasuk dalam memerangi KKN, mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan menjadikan bangsa dan negara ini betul-betul merdeka dan bermartabat yang lepas dari campur tangan asing. Oleh karena itu, kita harus peduli (concern) untuk mewaspadai kualitas nasionalisme kita yang sudah sepakat untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah NKRI.

(DP)



About admin