Eka Prasetya Pancakarsa, Ajaran Luhur yang Telah Dikubur  

Share Button

P-4

Krisis karakter dan jati diri telah mewabah anak bangsa paska Era Reformasi 1998. Seolah bangsa ini tidak punya jati diri sehingga terombang ambing dengan aneka paham yang dibawa arus globalisasi. Hal ini tidak lepas dari hilangnya penanaman Pancasila di sekolah-sekolah setelah ambruknya pemerintah Suharto.

 

Terlepas dari kesalahan masa lalu rezim Orde Baru, sesungguhnya ada juga nilai-nilai positif yang diwariskan kepada bangsa ini. Nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu, antara lain terangkum dalam Eka Prasetya Pancakarsa (tekad yang tunggal untuk melaksanakan lima kehendak). Butir-butir pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila itu tercantum dalam Ketetapan MPR (Tap MPR) II/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Tetapi, Tap MPR itu kini telah dicabut.

Tak hanya pada masa kepemimpinan Soeharto, presiden pertama RI, Soekarno pun sejak awal menekankan pentingnya national and character building. Semua itu lahir dari kesadaran bahwa negara ini didirikan untuk jangka waktu yang sangat panjang dan tidak menjadi negara gagal. Heterogenitas bangsa ini harus bisa dikelola dengan baik agar Indonesia tetap dan terus ada.

Sayangnya, warisan masa lalu itu cenderung mulai dilupakan generasi penerus pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Orde reformasi yang melahirkan euforia di berbagai bidang seolah menafikan nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya, berbagai persoalan kini mendera bangsa. Korupsi merajalela. Kesejahteraan rakyat tak kunjung tercapai. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin terus melebar. Toleransi kehidupan bermasyarakat pun menjadi barang mahal. Belakangan, rasa aman pun mulai terusik seiring dengan teror bom di berbagai tempat. Semua itu membuktikan ada yang salah di negeri ini.

Bagi kita, semua itu bersumber dari pembangunan bidang pendidikan yang hanya mengutamakan bidang akademis, tetapi mengabaikan pendidikan akhlak dan moral. Pada masa lalu ada pelajaran budi pekerti, pendidikan moral Pancasila, dan pendidikan sejarah perjuangan bangsa. Semua itu bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak didik, yang tak hanya dihayati, tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat

Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 45 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Butir-butir pengamalan Pancasila tersebut telah tersusun dengan baik namun sayangnya semua itu kini hanyalah tulisan-tulisan yang nyaris tak diperhatikan. Perlu ada upaya yang sungguh-sungguh dari segenap elemen bangsa untuk memastikan setiap nilai-nilai Pancasila benar-benar menjadi nilai yang menjiwai setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Inilah butir-butir pengamalan Pancasila :
Sila Pertama – Ketuhanan Yang Maha Esa

  1.       Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    2.       Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
    3.       Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    4.       Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    5.       Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
    6.       Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
    7.       Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

  1.       Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
    2.       Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
    3.       Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
    4.       Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
    5.       Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
    6.       Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
    7.       Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
    8.       Berani membela kebenaran dan keadilan.
    9.       Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
    10.   Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

 

Sila Ketiga – Persatuan Indonesia

  1.       Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
    2.       Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
    3.       Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
    4.       Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
    5.       Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
    6.       Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
    7.       Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila Keempat – Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

  1.       Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
    2.       Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
    3.       Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
    4.       Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
    5.       Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
    6.       Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
    7.       Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
    8.       Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
    9.       Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
    10.   Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

 

Sila Kelima – Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia

  1.       Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
    2.       Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
    3.       Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
    4.       Menghormati hak orang lain.
    5.       Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
    6.       Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
    7.       Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
    8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
    9.       Suka bekerja keras.
    10.   Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
    11.   Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.       (berbagai sumber)


About admin