Husein Sastranegara, Perintis Dunia Penerbangan di Tanah Air

Share Button

 

bandara-husen-skrg

Dalam Dunia penerbangan di tanah air ada lima orang anak bangsa yang mengawali kiprahnya sebagai penerbang, satu diantaranya Mayor Husein Sastranegara. Sebagai perintis, Husein adalah peletak dasar pembangunan angkatan udara. Namun sayang, ia wafat di usia yang relatif muda pada saat melakukan latihan udara.

Jika kita berkunjung ke kota Bandung, nama Husein Sastranegara cukup dikenal. Ya itulah nama Bandar Udara di ibu kota jawa Barat. Selain itu namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah museum di jalan Pajajaran Bandung. Siapa sebenarnya Husein Sastranegara.

Husein Sastranegara adalah salah seorang di antara tokoh-tokoh yang ikut serta mengabdikan dirinya dalam pembinaan perjuangan bersenjata pada masa-masa revolusi fisik, khususmya dibidang pertahanan udara. Disayangkan sekali bahwa semangat pengabdian dan kesediaan berkorban sebagai patriot Tanah Air tidak bisa dilaksanakan lebih lama. Almarhum hanya dapat menyumbangkan tenaganya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam waktu setahun lebih sedikit dan hanya dalam waktu lima bulan saja setelah Angkatan Udara RI resmi didirikan. Meskipun kesempatan untuk berbakti kepada tanah air yang dicintainya begitu pendek, tidaklah menghilangkan sama sekali nilai-nilai jasa perjuangannya, terutama dalam masa-masa berkecamuknya perjuangan fisik mati-matian menghadapi agres Belanda.

Semasa hidupnya Husein Sastranegara telah memberikan teladan yang tak ternilai kepada generasi penerus, baik dibidang kejuangan, kemauan yang keras dalam menggapai cita-cita, maupun tekadnya yang kuat untuk mengetahui dan menguasai teknologi penerbangan pada masanya. Kekerasan kemauan dan tekadnya serta kerelaan berkorban dem perjuangan telah tercermin dalam dari Husein Sastranegara. Pandangan-pandangannya yang jauh ke depan ikut meletakan pondasi yang penting bagi pembangunan TNI Angkatan Udara, yang kelak menjadi pancangan kaki yang kokoh bagi pengembangan suatu kekuatan Angkatan Udara yang modern di kemudian hari.
Dilihat dari latar belakang keluarga, Husein Sastranegara adalah keturunan ningrat Priangan dan golongan menengah Bumputera. Baik dari pihak ayah maupun ibu, darah biru mengalir dalam diri Husein Sasatranegara dan 13 saudaranya yang lain. Ayah Husein, Rd. Demang Ishak Sastranegara adalah seorang Pangreh peraja (Demang) jaman Belanda dan pernah menjabat sebagai wedana Ujung berung Pejabat bupati di Tasik malaya selama 17 bulan dan patih Tasikmalaya.

Beberapa catatan sejarah memang mencatat tempat dan tanggal kelahran Husen Sastranegara berbeda-beda. Namun berdasarkan catatan Yayasan Wangi Demang Sastranegara disebutkan bahwa Husen Sastranegara dilahirkan di Cilaku Cianjur pada tanggal 20 Januari 1919, sebagai anak kedelapan dari 14 bersaudara. Kondis lingkungan keluarga dan jamannya, terutama dengan status pekerjaan orang tua pejabat di lingkungan pemerintahan Hindia Belanda, memberi pengaruh kuat pada cara pandang dan gaya hidup pemuda Husen. Sudah menjadi sesuatu yang umum pada saat itu anak-anak dari keluarga kelas menengah Bumiputera menjadikan gaya hdup barat sebagai sesuatu yang ideal.

Menurut keterangan istri Husein Ny. Koriyati Mangkuratmaja cta-cita Husen adalah ingin menjadi seorang perwira. Mula-mula Husein sekolah di Europese Legere School (ELS) di Bandung. Ini tentunya setingat sekolah Dasar (SD) di jaman sekarang. Setelah itu Husein melanjutkan ke Hoger Burger School (HBS) di Bandung , tapi kemudian pindah ke HBS KW DRI di Jakarta . Begitu lulus HBS tahun 1939 Husen menjadi mahasiswa di Technische Hoge School (THS) di Bandung (sekarang ITB).

Pecahnya perang Dunia II pada tahun 1939 berdampak langsung pada nasib sekolah dan perjalanan hidup Husein. Belanda menduduki Jerman. Menyadari posisinya itulah pemerintah Hindia Belanda menerapkan siasat menarik Simpati rakyat Indonesia dengan memberi kelonggaran kepada pemuda Indonesia mencoba karir hidupnya di bidang penerbangan militer. Kesempatan tersebut ditanggapi sebagai peluang besar yang menjikan oleh Husein. Tanparagu husein pun mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliahnya dan mendaftarkan dir ke sekolah Militare Luchvaart School atau disebut juga Luchtvaart di Kalijati Subang pada tahun 1939. Husein termasuk salah satu dari 10 orang pemuda pribumi yang diterima untuk mengukuti pendidikan perwira penerbang.

Pada tahun itu sebenarnya ada peristiwa sejarah penting yang digabungkan Sekolah Penerbang yang berlokasi di Kalijati Subang dengan Sekolah Pengintai di Lapangan Andir Bandung, Dari 10 orang siswa yang masuk. Hanya lima orang yang berhasil mendapat brevet penerbang , yakni Husein Sastranegara, Ignatius Adisutjipto , Sambodja Hurip, Sulistiyo dan Sujono. Kelima orang siswa penerbang yang lulus tersebut kelak menjadi perintis dalam dunia penerbangan d tanah air. Penddikan bagi angkatan pertama itu berakhir tahun 1940.

Sayangnya Husein Sastranegara gagal meneruskan pendidikan penerbang lanjutannya di  Bandung. Bersama dengan dua orang rekannya, yakni Sujono dan Sulstyo, Husein hanya mendapat KMB (Kleine Militaire Brevet) atau lisensi menerbangkan pesawat – pesawat bermesin tunggal. Sedangkan yang mendapatkan GMB (Groote Militaire Brevet) hanya Agustnus Adsutjipto dan Sambudjo Hurip. 

Mengawali Karir Sebagai Inspektur Polisi
Karena kurangnya syarat tersebut maka rencana semula untuk memasuki Sekolah penerbang Darurat di Bandung manjadi terhalang. Kegagalan tersebut menyebabkan Husein ganti haluan dan pada tahun 1941 memasuki pendidikan Sekolah Inspektur Polisi di Sukabumi, Sementara itu Jepang telah ikut mengambil bagian dalam Perang Dunia yang mulai mengadakan ekspansi-ekspansi ke Asia Tenggara dan akhirnya bisa menduduki Indonesia. Setelah kurang lebih dua tahun mengikuti pendidikan Inspektur Polisi (Keibuhoo) dan mengingat kebutuhan Jepang pada saat tu, meski belum lulus Husein langsung diangkat menjadi Inspektur Polisi di Sukabumi.

Husein kemudian dipindahkan menjadi Kepala Polisi di Sukanagara Cianjur dan menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, Husein dipindahkan lagi sebagai pejuang dan kusuma bangsa dimulai dari jalur kepolisian. Menyerahnya bala tentara Jepang kepada Sekutu yang kemudian disusul dengan pergolakan revolusi fisik. Menjadikan Husein harus menggabungkan diri dengan Barisan keamanan Rakyat (BKR) di Bogor dan menjabat sebagai salah satu komandan pada devisi yang dibentuk oleh Didi Kartasasmita. Tetapi pertentangan yang terjadi antara dirinya dengan atasannya menyebabkan Husein mengundurkan dari kesatuan tersebut dan memasuki kesatuan BKR Bandung bagian Reismen Kuda yang belum diorganisir. Perjalanan hidupnya tanpaknya menggariskan Husein harus kembali ke jalur penerbangan. Sekitar bulan September-Oktober 1945 Husein dipanggil oleh Suryadi Suryadarma (KSAU) yang waktu itu sebagai pimpinan BKR Penerbangan. Panggilan itu berkaitan dengan kebutuhan mengurus Lapangan Udara Andir (sekarang Lanud Husein Sastranegara) yang baru saja berhasil direbut para pejuang RI. Husein dipercaya untuk mengurus Lapangan Udara Andir. 

Hijrah ke Yogyakarta 
Sayangnya, tugas itu belum sempat dilaksanakan Husein. Pasalnya, baru saja Husen melapor Suryadarma, beredar kabar bahwa Lapangan Udara Andir dapat dikuasai kembali oleh tentara Jepang dan pimpinan dambil alh oleh Inggris melalui Jepang. Tidak saja Lapangan Udara Andir, Bandung pun harus ditinggalkan para pejuang RI, termasuk Husein di dalamnya, Husein pun kemudian ikut hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta dan turut bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian penerbangan.

Di Yogyakarta inilah mulai disusun dan dibina pertahanan kekuatan udara. Pada waktu itu tenaga penerbang dirasakan sangat dibutuhkan. Ketika sekolah penerbangan pertama kali dibuka, Husein termasuk salah seorang dari siswanya. Mereka berasal dari berbagai pendidikan mulai dari pemilik brevet sampai kepada mereka yang belum pernah terbang sama sekali. Mereka bermodal tekad yang sama, berusaha untuk ikut serta menjadi pejuang dalam memperkuat pertahanan tanah air terocnta. Pada tanggal 9 April 1946 TKR bagian Penerbangan statusnya diubah menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang berdiri sendiri. Setelah selesai mengikuti pendidikan Sekolah Penerbangan Lanjutan di Yogyakarta, Husen langsung diangkat sebagai instruktur di sekolah penerbangan tersebut merangkap sebagai perwira operasi AURI.

Pada periode tahun 1945-1946 AURI masih sibuk dengan penerbtitan materiil yang berupa pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang dan belum melakukan operasi-operasi yang bersifat ofensif penyerangan. Konsolidasi ke dalam dilakukan dengan mengadakan hubungan-hubungan udara melalui pangkalan-pangkalan yang masih dikuasa RI. Dalam hubungan inilah Husein sangat akatif dalam menerbangkan dan mencoba pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang sperti Curen (sering disebut juga dengan cureng) Cukiu dan pembom Hayabusha Diponegoro-1

Pada tanggal 21 Mei 1946 Husein telah mengadakan penerbangan formasi dari Lapangan Udara Maguwo di Yogyakarta ke lapangan Udara Gorda di Serang. Pada tanggal 10 Juni 1946 penerbangan formasi lima buah pesawat Curen dari Yogyakarta ke Cibeureum Tasikmalaya dalam rangka peresmian pembukaan lapangan terbang tersebut. Juga penerbangan lebih jauh ke Barat dilakukan pada tanggal 23 Juli 1946 sampai ke lapangan Gorda di Banten (Serang) Dengan pesawat pembom Diponegoro 1 Husein pernah pula terbang dari Maguwo Yogyakarata ke Maospati dan bahkan pada tanggal 13 September 1946, Husein masih menerbangkan pesawat Curen untuk menaburkan bunga dalam upacara pemakaman Tarsono Rujito di Salatiga. 

Gugur Saat Test Flight. 
Takdir Tuhan Yang Maha Esa telah digariskan bagi Husein.. Waktu itu tanggal 26 September 1946 dan pangkat terakhirnya sebagai Mayor Udara. Pada akhir September 1946 Husein mendapatkan tugas melakukan test fight (uji terbang) sebuah pesawat Cukiu d atas kota Yogyakarta. Pesawat rongsokan peninggalan tentara Jepang itu rencananya akan digunakan untuk mengangkut Perdana Menterei RI Sutan Syahril menuju Malang. Test flight saat ini memang harus dilakukan dan membutuhkan kesiapan jiwa raga para penerbangnya karena pesawat-pesawat peninggalan Jepang tersebut sebetulnya masuk kualifikasi tidak layak terbang. Nyatanya pesawat Cukiu yang diterbangkan Husen mengalami kerusakan mesin hingga jatuh terbakar di atas Gowongan Lor Yogyakarta sekaligus menewaskan Husein bersama juru teknik Rukidi. Husein meninggalkan seorang istri Ny. Koriyati Mangkuratmaja dengan tiga putera yang masih balita.

Sebagai penghargaan negara atas jasa-jasa Husein mengabdikan diri kepada tanah air, maka pangkatnya dinaikan dari Mayor Udara menjadi (Anumerta) Komodor Udara sederajat Kolonel Udara sekarang. Selain itu, jabatan terakhir Husein adalah sebagai instruktur di Sekolah Penerbangan Yogyakarta merangkap Perwira Operasi AURI. Berkat jasa-jasanya, Husein mendapat sejumlah anugrah tanda jasa dari pemerintah seperti Bintang Garuda, Bintang Satyalencana Perang Kemerdekaan RI, Piagam Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Tahun 1957.

Selain itu, berkat jasa-jasa dan nilai-nilai kepahlawanan yang telah diabadikannya kepada bangsa dan negara, nama Husen Sastranegara diabadikan untuk mengganti Pangkalan Udara Andir sejak tanggal 17 Agustus 1952 berdasarkan Keputusan Kasau No. 76 Tahun 1952. Husein dianggap sebagai salah seorang pejuang dan perintis yang telah meletakan dasar-dasar pembangunan di bidang penerbangan nasional. Husein gugur sebagai pahlawan dalam usia yang relatif masih muda yakn 27 tahun dan jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Sumber http://www.tni-au.mil.id/



About admin