Ijazah Boleh Robek, tetapi Karakter Pancasila Tak Boleh Lekang

Share Button

010612_DPE_SOLO_GAMBAR-LAMBANG-PANCASILA1

“Pendidikan Karakter sangat fundamental,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Djoko Santoso dalam arahannya pada Workshop Pendidikan Karakter dengan tema “Pembangunan Karakter Pancasila oleh dan untuk Civitas Akademika Perguruan Tinggi sebagai Gerakan Nasional” yang diadakan di Menara Peninsula, Jakarta, 27 Agustus lalu seperti dikutip kemendikbud.co.id,.
Djoko berharap kegiatan ini mampu menyamakan persepsi para peserta workshop terkait penguatan dan pengembangan pendidikan karakter di Perguruan Tinggi (PT). “Yang penting bukan berapa banyak pelatihan yang dilakukan, tapi berapa banyak perubahan terjadi,” tambahnya.
Dalam Pancasila terkandung nilai benar dan adil. Djoko berharap para peserta workshop mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. “Dengan Pancasila, kita dapat menjadi bangsa yang unggul,” ucap Djoko. Selain itu penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menurut Djoko, hanya bisa terwujud dengan budaya dan etika akademik yang baik.
Workshop ini merupakan salah satu langkah Ditjen Dikti dalam penguatan dan pengembangan pendidikan karakter di PT. Beberapa upaya yang dilakukan dalam kegiatan ini antara lain melakukan refleksi kolektif terhadap berbagai pengalaman dalam perintisan, penguatan dan pengembangan pendidikan karakter di PT. Selain itu juga, membangun kesepahaman dalam rangka membangun pondasi yang kuat untuk pembangunan bangsa dan karakter. Yang terakhir, membangun komitmen bersama di lingkungan internal PT dan antar PT melalui penyamaan persepsi tentang konsep, perangkat dan praktis sebagai masukan penyusunan kebijakan untuk pembangunan bangsa dan karakter di PT.
Dengan kegiatan ini diharapkan peserta didik dapat berkembang menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Membumikan Pancasila
Membumikan Pancasila sebagai pantulan cita-cita dan kehendak bersama, mengharuskan Pancasila hidup dalam realita, tak hanya jadi retorika atau verbalisme di pentas politik. Karena itu, rejuvenasi Pancasila harus dilakukan dengan cara mengukuhkan kembali posisinya sebagai dasar falsafah negara, mengembangkannya ke dalam wacana ilmiah, mengupayakan konsistensinya dengan produk-produk perundangan, koherensi antarsila, dan korespondensi dengan realitas sosial, dan menjadikannya sebagai karya, kebanggaan dan komitmen bersama.
Marilah kita muliakan nilai-nilai Pancasila sebagai kunci kemajuan bangsa. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Pengalaman menjadi Indonesia menunjukkan bahwa spirit perjuangan memiliki kemampuan yang tak terbatas untuk menghadapi berbagai rintangan karena adanya harapan. Kemarahan, ketakutan dan kesedihan memang tak tertahankan, tetapi sejauh masih ada harapan semangat tetap menyala.
Harapan yang positif bukanlah khayalan kosong, melainkan harapan yang berjejak pada visi yang diperjuangkan menjadi kenyataan. Harapan tanpa visi bisa membawa kesesatan. Upaya menyemai politik harapan harus memperkuat kembali visi yang mempertimbangkan warisan baik masa lalu, peluang masa kini, dan keampuhannya mengantisipasi masa depan. Dalam kerangka itulah, penggalian kembali nilai-nilai luhur Pancasila dengan mempertimbangkan rasionalitas dan aktualisasinya dalam mengatasi masalah kekinian adalah cara tepat untuk mentransformasikan ketakutan menjadi harapan.
Indonesia adalah satu-satunya negeri di muka bumi yang menyebut negerinya dengan ‘tanah air’. Selama masih ada lautan yang bisa dilayari, dan selama masih ada tanah yang bisa ditanami, selama itu pula masih ada harapan. Selamat berjuang! Ingatlah pesan Bung Karno, ijazah boleh robek dan hancur, tetapi karakter Pancasila tak boleh lekang. Itulah modal permanen bagi kehidupan dan kemajuan!

(berbagai sumber)



About admin