Jas Bertambal PM Muhammad Natsir

Share Button

Profil-Biografi-Mohammad-Natsir-1

Belakangan ini bangsa Indonesia dirundung berbagai permasalahan baik itu konflik antar instansi, antar elite, ekonomi, politik dan sebagainya. Ditambah banyak pemimpin dan elite dibekap permasalahan hukum yang membuat rakyat semakin antipasti terhadap pemimpinnya, Apalagi tidak sejak era reformasi belum ditemukan model pimpinan atau tokoh bangsa yang bisa dijadikan panutan bagi rakyatnya.

Bangsa Indonesia, seperti halnya bangsa lain, tidak melahirkan banyak negarawan sekalipun memproduksi banyak politikus. Menurut sebuah kasus, negarawan adalah seorang yang memanfaatkan kepemimpinan politiknya secara arif dan waskita tanpa dibarengi kesetiaan sempit.

Sebuah teori kepemimpinan mengatakan negarawan adalah seorang yang memiliki wawasan dan moral yang jernih, konsistensi, persistensi, kemampuan berkomunikasi dan berjiwa besar. Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan.

Muhammad Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja. Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. ”Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Dia melihat sendiri Natsir mengenakan jas bertambal. Kemejanya hanya dua setel dan sudah butut. Kahin, yang mendapat info dari Haji Agus Salim me­ngenai sosok Natsir, belakangan tahu bahwa staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang membelikan pakaian supaya bos mereka terlihat pantas sebagai seorang menteri.

Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika itu.

Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, adalah musuh ideologis nomor satu Mohammad Natsir. Aidit memperjuangkan tegaknya komunisme di Indonesia. Natsir sebaliknya. Tokoh Masyumi itu menginginkan negara dijalankan di atas nilai-nilai Islami. Pertentangan ini membuat keduanya sering berdebat keras di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Tapi, di luar sidang, keduanya bersahabat.

Inilah sosok multikultural Natsir yang dikenang dengan bangga oleh orang-orang dekatnya. ”Dia tak punya handicap berhubung­an dengan golongan nonmuslim,” ujar Amien Rais. Setelah menyelesaikan studi doktoral di Universitas Chicago pada 1984, Amien yang bekas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini sering menjadi teman ngobrol Natsir. ”Saya kira Pak Natsir banyak menyerap kearifan H.O.S. Tjokroaminoto,” ujar Amien.

Soal hubungan dengan Aidit, Natsir banyak bercerita kepada Yusril Izha Mahendra, Ketua Partai Bulan Bintang. Tatkala masih kuliah di Jakarta, Yusril amat dekat dengan Natsir. Menurut Yusril, Natsir sering tak bisa mengendalikan emosi ketika berdebat dengan Aidit di parlemen. ”Pak Natsir bilang, rasanya dia ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi,” kata Yusril.

Tapi, hingga rapat selesai, tak ada kursi yang melayang ke kepala Aidit. Malah, begitu meninggalkan ruang sidang, Aidit membawakannya segelas kopi. Keduanya lalu ngerumpi tentang keluarga masing-masing. Itu terjadi berkali-kali. ”Kalau habis rapat tak ada tumpangan, Pak Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit dari Pejambon,” Yusril menambahkan.

Perdana Menteri yang Naik Sepeda ke Kantor

Muhammad Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dan Maninjau. Ayahnya, Idris Sutan Saripado, adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol. Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Muhammad Natsir pada mulanya sekolah di sekolah dasar pemerintah di Maninjau.Setelah lulus dari HIS(Hollandsch-InlandscheSchool), Natsir meneruskan studinya di Mulo Padang, kemudian AMS di Bandung. Walaupun mendapatkan beasiswa seperti ketika di Mulo dan AMS untuk belajar hokum di Jakarta atau ekonomi di Rotterdam, beliau tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam.

Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orangtua, kemudian Muhammad Natsir masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Qur’an pada malam hari di surau.Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika Muhammad Natsir berguru kepada Ustadz Ahmad Hasan, tokoh Persatuan islam di Bandung. Kepribadian A. Hasan dan tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim, tajam berargumentasi, dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Muhammad Natsir kemudian. Beliau juga belajar dari tokoh islam terkemuka, seperti H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, H.O.S. Cokroaminoto, dan A.M. Sangaji.

Pengalaman organisasi Muhammad Natsir  dimulai ketika masuk Jong Islarnieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung, dia menjadi wakil ketua JIB pada 1 929-1932, menjadi ketuanPartai Islam indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam A’la Indonesia(MIAI), cikal bakal partai islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya. Muhammad Natsir menjalin hubungan dengan tokoh politik, seperti Wiwoho yang terkenal dengan emosinya “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Belanda, Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono, dan Mohammad Roem.

Berkali-kali Muhammad Natsir menyelamatkan Republik Indonesia dan ancaman perpecahan. Beliau pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Roem-Royen, untuk kembali ke Yogyakarta. Muhammad Natsir juga berhasil melunakkan hati tokoh Aceh, Daud Beureuh,yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950. Hal ini terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya.

Kegiatan politik Muhammad Natsir mulai menonjol sesudah dibukanya kesempatan mendirikan partai politik pada buian November 1945. Bersama tokoh-tokoh Islam lainnya, seperti Sukiman dan Roem, dia mendirikan partai Islam Masyumi, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan anggota Badan Pekerja KNIP. Dalam kabinet Syahrir I dan II (1946-1947) serta dalam kabinet Hatta 1948, Natsir ditunjuk sebagai Menteri Penerangan.

Ketika terbentuknya negara RIS sebagai hasil perjanjian KMB pada akhir Desember 1949, Muhammad Natsir memelopori kembali ke Negara Kesatuan RI dengan mengajukan Mosi Integral kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950. Bersama Hatta yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri RIS, ide ini tercapai dengan dibentuknya Negara Kesatuan RI pada 17 Agustus 1950. Atas jasanya, Muhammad Natsir ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Sukarno. Selain selalu tampil sederhana, Natsir juga memperlihatkan sikap tidak ingin memanfaatkan kedudukannya. Saat masa jabatannya habis, Natsir meninggalkan kantor dengan mengayuh sepeda. Mobil dinas Muhammad Natsir langsung diserahkan saat itu juga kepada negara

Perbedaan pendapat dengan Sukarno, terutama setelah Presiden Indonesia pertama tersebut semakin memusatkan kekuasaan pada dirinya dan dekat dengan PKI, membuat Natsir ikut ke dalam PRRI sebagai upaya membawa Republik Indonesia yang masih muda kembali ke jalur yang benar. Ketika PRRI berakhir dengan pemberian amnesti, Natsir bersama tokoh lainnya kembali, tetapi kemudian beliau dikarantina di Batu, Jawa Timur (1960-1962), lalu di Rumah Tahanan Militer Jakarta sampai dibebaskan oleh pemerintahan Soeharto tahun 1966. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan satu tuduhan pun.

Walaupun tidak lagi dipakai secara formal, Muhammad Natsir tetap memiliki pengaruh dan berjasa besar bagi kepentingan bangsa, misalnya ikut membantu pemulihan hubungan Indonesia dengan Malaysia. Melalui hubungan baiknya, Natsir menulis surat pribadi kepada Perdana Menteri Malaysia, Tengku Abdul Rahman, guna mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia. Karena tidak mungkin lagi terjun ke politik, Natsir mengalihkan kegiatannya, berdakwah melalui perbuatan nyata dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Pada tahun 1967 dia mendirikan Dewan Dakwah lslamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal.

Muhammad Natsir meninggal dunia di Jakarta 6 Februari 1993,dengan meninggalkan enam anak, hasil pernikahannya dengan Nur Nahar. Beliau dimakamkan di TPU Karet, Tanah Abang. Muhammad Natsir ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No. 041/TK/2008, Tgl. 6 November 2008

 

DP diolah dari serbasejarah.com dan sumber lainnya

 

 



About admin