Kaukus Muda Indonesia Menentang Pancasila sebagai Pilar Bangsa

Share Button

kmi

Meski penggunaan frasa 4 Pilar telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi pada sidang uji materiil 4 April 2014 silam, namun MPR tetap tidak berkeming. Hingga saat ini MPR masih gencar melaksanakan sosialisasi bertajuk 4 Pilar dengan memasukkan Pancasila sejajar dengan 3 pilar bangsa lainnya yakni UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Berbagai kritikan pun  disampaikan atas penggunaan istilah yang tidak tepat tersebut. Satu diantaranya disampaikan oleh Kaukus Muda Indonesia (KMI) beberapa waktu lalu.

Beberapa pembicara yang hadir pada dialog KMI mengkritisi sosialisasi 4 Pilar yang dilakukan MPR dimana memasukkan pancasila sebagai salah satu pilarnya. Pakar hukum tata negara, Refly Harun secara tegas mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara. Bukan empat pilar yang selama ini  disosialisaikan oleh MPR dan dimulai pada era kepemimpinan Taufik Kiemas.

“Masalah apakah Pancasila sebagai dasar negara atau empat pilar, itu tak perlu diseriusi. Munculnya ide empat pilar, karena penilaian MPR yang salah tafsir. Harusnya MPR merevisi isitilah empat pilar yang mereka sosialisasikan,” tegas Refly Harun.

Tampil sebagai pembicara dalam Dialog Kebangsaan bertajuk ‘Merealisasikan Janji Kebangsaan Kita; Pancasila Sebagai Dasar dan Falsafah Bangsa Indonesia’, yang digelar Kaukus Muda Indonesia (KMI), 25 Juni 2015 lalu, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Refly Harun justru salut dengan KMI yang ‘nekad’ menggelar dialog seputar Pancasila.

“Saya salut pada KMI. Dengan usia yang masih muda-muda, mereka begitu perhatian pada Pancasila yang belakangan semakin tergerus di negara ini. Padahal seharusnya, yang pantas berbicara soal Pancasila adalah mereka-mereka yang sudah berumur,” tandasnya.

Hal senada dilontarkan Ketua Umum KMI, Edi Humaidi mengingatkan bahwa yang perlu diambil dan dijadikan pelajaran bagi elemen bangsa, terutama generasi muda adalah semangat dan spirit untuk menghidupkan Pancasila.

“Kita ketahui, Pancasila sempat dianggap dimanipulasi oleh orde baru. Akibatnya Pancasila juga terkena dampaknya, yakni ikut dilupakan. Padahal, Pancasila merupakan janji kebangsaan seluruh anak negeri. Harus diingat, Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Pancasila bukan empat pilar kebangsaan seperti yang pernah didengung-dengungkan beberapa waktu belakangan ini,” tukas Edi Humaidi.

Sementara itu pengamat politik dari Paramadina, Hendri Satrio prihatin dengan kondisi Pancasila belakangan ini. Dia melihat, Pancasila sekarang kalah top dengan Nawacita atau Trisakti yang digembar-gemborkan pemerintahan Jokowi.

“Saya prihatin melihat kondisi Pancasila saat ini. Sejak era Orba, rakyat makin tak mengenal Pancasila. Padahal Pancasila merupakan ideologi bangsa,” kata Hendri Satrio.

Sedangkan Dr Sapto dari Kabangpol Kemendagri sangat optimis berbagai permasalahan bangsa akan selesai kalau bangsa Indonesia benar-benar berpedoman pada Pancasila.

“Yang terjadi saat ini, kekuatan global tak ingin Pancasila dibumikan di Indonesia. Mengapa? Kalau hal itu terjadi, mereka sulit menembus Indonesia,” ujarnya.

Pendapat yang dikemukan para pembicara pada diskusi KMI beberapa waktu lalu, sepakat bahwa Pancasila adalah Dasar Negara bukan Pilar seperti yang digemborkan MPR melalui sosialisasi 4 Pilar. Untuk itu penggunaan istilah 4 Pilar dengan memasukan Pancasila didalamnya seharusnya dikoreksi kembali oleh MPR.

 

 

Sumber dekandikat.com



About admin