Membangun Bangsa yang Bermartabat 

Share Button

paskibraka

Bangsa yang bermartabat (prestigeous nation) menandai tingkat keberadaban suatu bangsa (civilized nation) yang tergambar dalam sikap dan perilaku sebagai individu dan masyarakat yang beragama dan berbudaya. Bangsa yang beragama ditunjukkan oleh pengamalan ajaran agama sebagai umat yang bertaqwa dan beramal shaleh serta berakhlak mulia. Bangsa yang berbudaya tergambar dari karakter sebagai insan yang berbudi luhur, toleran, peduli, gotong royong, dinamis, disiplin dan patriotis. Bangsa yang beragama dan berbudaya sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila yang diawali dari nilai ketuhanan seterusnya nilai kebudayaan dan diakhiri dengan nilai keadilan sosial. Nilai ketuhanan sebagai landasan utama bagi pembentukan insan yang berakhlak mulia sedangkan nilai kebudayaan menjadikan insan yang berbudi luhur dan nilai keadilan sosial membentuk masyarakat dengan kesadaran bersama sebagai bangsa yang senasib dan sepenanggungan.

Upaya untuk menjadikan manusia Indonesia seutuhnya dilakukan melalui proses pendidikan dan pengajaran tentang karakter bangsa yang beradab sejak dari institusi keluarga dan sekolah serta komunitas sampai kepada institusi negara. Keempat pilar bagi pengembangan karakter bangsa secara komprehensif dan terintegrasi serta berkelanjutan dalam setiap langkah dan strategi serta program kerja untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat. Keyakinan (believe) sebagai bangsa yang terlahir suci harus dimulai dari pengajaran dan percontohan dari orangtua kepada anggota keluarga di rumah dan proses pendidikan yang menyangkut aspek afektif dan kognitif serta psikomotorik dari guru sebagai orangtua asuh. Seterusnya keteladanan dari tokoh masyarakat dan kenegarawan para pemimpin sebagai panutan bagi warga negara dalam rangka mewujudkan visi pembangunan bangsa yang bermartabat seperti tercantum dalam RPJP RI tahun 2006-2025.

Kenyataan menunjukkan bahwa proses pembentukan karakter bangsa yang bermartabat belum sepenuhnya berhasil sebagai akibat lemahnya pemahaman dan pengamalan agama oleh orangtua dan anggota keluarga termasuk mekanisme kontrol dari masyarakat secara melembaga. Proses pembelajaran di sekolah sangat bertumpu kepada kapasitas guru dan sistem pendidikan yang lebih menekankan aspek kognitif sebaliknya lemah dalam afektif dan psikomotorik sehingga belum terbangun kesadaran bersama tentang toleransi, kepedulian, kegotongroyongan, kedisiplinan dan patriotisme. Ary Ginanjar Agustian, tokoh ESQ the Way 165 menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar bagi pembentukan Wawasan Kebangsaan lebih pada wacana dalam dimensi intelektual namun kurang menyentuh dimensi emosional dan spiritual.

Pendapat serupa juga dinyatakan oleh tokoh motivasi seperti Mario Teguh dan pakar perubahan seperti Prof. Dr. Rhenald Khasali yang menekankan proses pembentukan karakter harus dimulai dari rumah tangga seterusnya di sekolah. Mekanisme kontrol oleh masyarakat selain wujud kesadaran dan kepeulian harus berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur dan mengendalikan serta menindak dan menghukum sebagai proses pembelajaran yang tidak pernah berhenti sepanjang hayat.

Pendidikan yang memberdayakan dalam kerangka pembentukan wawasan kebangsaan sebagai bangsa yang senasib dan setujuan serta seperuntungan dalam suka dan duka dapat dikembangkan dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek sekaligus objek dalam laboratorium sosial di masyarakat. Proses pembentukan jatidiri bangsa melalui pendidikan berlangsung di sekolah dan luar sekolah sehingga perlu pengembangan kurikulum dengan materi dan metodologi pembelajaran yang berorientasi penguatan kapasitas kepemudaan sebagai generasi pembaharu yang cenderung kepada perubahan berkesinambungan. Tiga nilai dasar dalam ketahanan nasional memberi tekanan kepada pembentukan identitas dan integritas serta kapabalitas bagi perwujudan cita-cita nasional dalam mencapai tujuan nasional sebagai pengejawantahan tentang hakikat kemerdekaan dan perdamaian abadi.

Karakter bangsa sebagai bagian pokok dari wawasan kebangsaan dibentuk melalui proses pembelajaran secara inklusif dan berkelanjutan dimulai dari institusi keluarga dan sekolah sampai kepada komunitas dan masyarakat. Proses tersebut melibatkan keseluruhan warga negara dengan falsafah saling asah, saling asih, saling asuh sehingga terbangun suatu kesadaran tentang hakikat berbangsa dan bernegara. Konsepsi tentang pembelajaran sepanjang hayat (life long education) adalah dasar bagi pembentukan karakter bangsa karena nilai-nilai luhur tersebut harus wujud sepanjang hayat sebab menjadi identitas atau jatidiri bangsa.

Konsekuensi dari kesadaran tersebut maka peraturan dan perundangan-undangan harus disertai penegakan hukum melalui lembaga peradilan yang bebas dari berbagai intervensi. Selain itu dukungan masyarakat untuk membentuk rasa bangga sebagai bangsa yang bermartabat sebaliknya rasa malu sebagai bangsa yang kurang beradab dalam rangka mewujudkan bangsa yang sejahtera dalam negeri yang makmur.

Proses pembelajaran tersebut melibatkan kanak-kanak dan remaja serta pemuda dalam usia sekolah antara 5-30 tahun melalui proses pencerahan (enlightment) tentang hakikat hidup dan kehidupan. Pencerahan itu menyangkut hak dan kewajiban sebagai individu dan anggota masyarakat serta tanggungjawabnya sebagai warga negara. Proses pencerahan diupayakan melalui pengajaran tentang konsep dan teori serta metodologi seterusnya praktik sosial untuk mengaplikasikannya melalui pola keterlibatkan (involvement) dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Mekanisme tentang keterlibatan ini menjadikan setiap individu akan dihargai karena diakui keberadaan dan karyanya dalam rangka pemberdayaan (empowerment). Pembangunan sosial yang memberdayakan dalam konsepsi gotong royong melibatkan peran sosial dan fungsi ekonomi yaitu individu memberi sumbangan berupa tenaga, uang, material, makanan dan pemikiran sesuai kemampuannya dalam membangun lingkungan kehidupan yang lebih baik.

Pembelajaran dengan metoda interaktif untuk mengembangkan kapasitas sekaligus kepedulian sosial dapat diselenggarakan di luar kelas dengan media masyarakat bertujuan meningkatkan pemahaman tentang hakikat kebersamaan. Penghayatan tentang filosofi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa lebih kental dan melekat berbanding metoda instruktif di kelas. Pengajaran sejarah dan kewarganegaraan serta pendidikan agama dan kebudayaan akan menjadikan pemuda berwawasan kebangsaan yang kuat dan berani menantang dunia yang dinamis. Di berbagai belahan dunia telah dikembangkan pola pembelajaran dengan media masyarakat berupa youth camp bagi pembentukan jatidiri bangsa yang kuat dan bersatu seperti di Vietnam untuk merekatkan wilayah Utara dan Selatan.

 

Prof. Fashbir Noor Sidin, SE, MSP, Ph.D.
Direktur Pengkajian Politik LEMHANNAS RI



About admin