Minimnya Penanaman Pancasila Munculkan Radikalisme  

Share Button

murid upacara

Di beberapa bagian dunia, saat ini marak dengan aksi-aksi radikalisme. Aksi –aksi yang menggunakan cara kekerasan ini bergejolak sangat mempengaruhi stabilitas keamanan dunia. Aksi yang sarat dengan muatan SARA ini misalnya gerakan ISIS (Islamic State Iraq and Suriah), gerakan Zionis Israel, Ukraina, Myanmar dan sebagainya. Bahkan di tanah air, beberapa aksi radikalisme tak jarang menggunakan cara-cara yang anarki.

Untuk itu, perlu ada langkah-langkah untuk mencegah aksi radikalisme tumbuh subur di bumi pertiwi. Apalagi bangsa Indonesia mempunyai dasar Negara yang berisi nilai-nilai luhur bangsa dalam Pancasila. Peneliti dari Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gajdah Mada (UGM), Hendro Muhaimin, MA berpendapat, keluarga merupakan benteng terdepan dalam mencegah munculnya radikalisme.

Dalam konteks ini, maka orang tua harus dibekali pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang nasionalisme kebangsaan, kata Hendro Muhaimin dalam materi “Pancasila Benteng Terakhir NKRI” yang disampaikan dalam seminar bertemakan “Pancasila Sebagai Dasar Negara dan Ideologi Pemersatu Bangsa”, di Kupang, September 2014 lalu seperti dikutip Antaranews. Seminar sehari itu diselenggarakan atas kerja sama Badan Pengelola Perbatasan (BPP) NTT, Yayasan Masyarakat Peduli Perbatasan Indonesia (MPPI) dan Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gajah Mada (UGM).

“Orang tua itu adalah benteng terdepan dalam mencegah radikalisme, karena mereka paling awal membaca tanda-tanda ekstrimisme di tiap-tiap induvidu di dalam keluarga,” katanya.

Menurut dia, selama ini peran keluarga seakan terlupakan oleh negara dalam mencermati persoalan-persoalan kebangsaan yang muncul. Dia menambahkan, minimnya pemahaman tentang Pancasila dalam keluarga dan sekolah juga menyebabkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya mulai terabaikan.

Karena itu, Pancasila harus eksis kembali, dimana terminologi kandungannya harus muncul lagi dalam keluarga dan sekolah. Dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang nasionalisme dalam keluarga, diharapkan perlahan-lahan bisa mencegah tumbuhnya radikalisme, katanya.

Artinya, problem yang muncul terkait persoalan radikalisme harus benar-benar dicermati dan diresapi bersama. Harus ada konsep atau gagasan baru dalam membudayakan dan membumikan Pancasila.

Langkah ini penting karena selama ini proses pembudayaan masih terkesan kaku yakni dilakukan hanya untuk kepentingan negara, khususnya aparat pemerintah, tetapi tidak memberi ruang publik untuk melakukan interpretasi dan melahirkan ide-ide yang kreatif, sehingga berdampak pada bagaimana nilai-nilai Pancasila itu akan diinternalisasikan.

Masyarakat kata dia, harus memiliki komitmen yang kuat pada nilai-nilai Pancasila, dan lebih peka terhadap lingkungan, terutama yang berhubungan dengan berbagai potensi yang menjadi ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.

 

Perlukah Dibentuk Lembaga untuk Sosialisasi Pancasila  ?

Sosialisasi Pancasila saat ini kurang dirasakan mengena di kalangan sekolah apalagi keluarga. Dulu pada masa Orde Baru ada lembaga BP-7 yang aktif melakukan sosialisasi Pancasila ke sekolah-sekolah. Namun jika dibentuk lembaga seperti itu harus relevan dan sesuai dengan nuansa jaman. Tentunya metode-metode paksaan seperti indoktrinasi P4 tidak lagi dipakai. Mungkin fungsinya adalah menyusun strategi guna mendayagunakan institusi dan pranata masyarakat (LSM, perkumpulan, agama, pemerintah, adat, swasta, dan lain-lain) untuk menegakkan Pancasila, dan juga bertugas untuk mengingatkan semua pihak jika ada praktik-praktik ataupun kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan Pancasila.

Program sosialisasi dan pendidikan Pancasila dilaksanakan dengan kreatif, edukatif dan melibatkan partisipasi siswa. Penerapan kemajuan teknologi juga dikembangkan dalam kerangka penyebarluasan pengamalan nilai Pancasila. Sehingga lembaga yang baru ini, apapun namanya merupakan sebuah training center yang mencetak generasi penerus berkarakter Pancasila. Semoga pemerintahan Jokowi-JK, konsisten untuk mengembangkan karakter Pancasila sebagai benteng terhadap aksi-aksi radikalisme yang berkembang dewasa ini.

 

DP/ berbagai sumber

 

 



About admin