Monumen Pers, Tempat Lahirnya PWI dan Menyimpan Koleksi Radio Kambing

Share Button

mon pers

Monumen Pers Nasional dahulu dikenal dengan sebutan “Sociteit” pada tanggal 9 Februari 1946 dipergunakan sebagai tempat menyelenggarakan Kongres Pertama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Di Monumen inilah disimpan radio pertama masa perjuangan yang dijuluki dengan sebutan Radio Kambing karena dulu pernah disembunyikan oleh pejuang RRI dan TNI di kandang kambing untuk mengelabui tentara Belanda di desa Balong, lereng gunung Lawu.

Monumen Pers Nasional berada persis di tepi sebuah bundaran yang merupakan pertemuan antara Jl. Gajah Mada dengan Jl. Yosodipuro, menghadap ke arah Timur Laut. Gedung yang ditempati oleh museum ini cukup besar, melebar, dengan beberapa bentuk seperti stupa di bagian atasnya. Alamatnya di jalan Gakah Mada no 59 Surakarta.

Pada bagian depannya, yang mestinya menjadi jalan masuk utama namun tertutup, terdapat empat buah arca naga berukuran besar. Pintu masuk ke dalam museum melalui bagian samping. Tak ada tiket yang mesti dibayar. Di beranda depan gedung Monumen Pers Nasional terdapat Kentongan Kyai Swara Gugah sebagai lambang alat komunikasi utama pada masa lalu. Begitu masuk ke dalam ruangan, terlihat beberapa buah patung dada di sisi kanan lorong.

Patung dada dari lima tokoh pers nasional, berturut-turut Soetopo Wonobojo, R. Bakrie Soeraatmadja, Dr. Abdul Rivai, Dr. Danudirdja Setiabudhi, dan R.M. Bintarti.

Soetopo Wonobojo memimpin harian Boedi Oetomo edisi Bahasa Belanda di Yogya, kemudian memimpin Harian Koemandang Rakjat di Solo, dan terpilih menjadi ketua PB PERDI yang pertama pada Kongres di Solo tahun 1933.

Bakrie Soeraatmadja adalah pemimpin redaksi Sipatahoenan, sebuah surat kabar berbahasa Sunda. Ia dijebloskan ke penjara Belanda selama 3 bulan karena menulis tentang penangkapan Soekarno oleh Belanda.

Ketika tengah berkelana ke Eropa dan Amerika, Dr. Abdul Rivai rajin mengirimkan tulisan ke suratkabar-suratkabar di tanah air yang memberi pembelajaran politik kepada bangsanya yang masih terjajah, dan membuka mata mereka akan arti pentingnya kemedekaan.

Dr. Danudirdja Setiabudhi (Ernest Francuis Eugene Douwes Deker) bersama Dr. Ciptomangunkusumo dan R Soewardi Soerjaningrat mendirikan Indische Partij pada 1912. Di Solo ia menerbitkan De Beweging dan sempat dipenjara 2 tahun karena terlibat pemogokan buruh pabrik gula. Pindah ke Semarang ia menerbitkan Niewe Express, dan ketika pindah ke Bandung ia menerbitkan Ksatrian Insitut.

RM Bintarti bersama R Panjo Soeroso menerbitkan Kemadjoean Hindia yang tak bertahan lama. Ia sempat pindah ke Sin Po, Soeara Publiek, dan Pewarta Surabaja sampai 1942. Pada 1945 bersama Bung Tomo ia mendirikan Kantor Berita Indonesia yang kemudian digabungkan dengan Antara Pusat Jakarta.

Ada banyak koleksi majalah lama yang dipajang di museum Monumen Pers Nasional ini, diantaranya adalah “Fikiran Rak’jat” dengan pemimpin redaksi Ir.Soekarno, Majalah “Penjebar Semangat”, Majalah “Minggu Pagi”, Sketsmasa, Asia Raya, dan Mataram.

Ada ribuan koran dan majalah serta berbagai benda bersejarah terkait pers Indonesia yang disimpan di tempat ini, sebagian ada di ruang pamer, di ruang Media Center, dan juga di perpustakaan di lantai atas.

 

 

Koleksi Radio Kambing

Satu diantara daya tarik monument pers adalah koleksi radio kambing. Koleksi peralatan pemancar di Monumen Pers Nasional yang digunakan pada siaran langsung terjauh di Indonesia yang terjadi pada 1936, yaitu dari Solo ke Den Haag. Pemancar ini disebut Radio Kambing karena pernah disembunyikan oleh para pejuang RRI dan TNI di dalam kandang kambing di Desa Balong, lereng Gunung Lawu pada aksi militer Belanda II pada 1948-1949.

Pemancar radio Kambing di ungsikan karena studio RRI Solo pada waktu itu diserang oleh tentara belanda. Pemancar ini diduga merupakan pemancar yang sama yang pernah di gunakan SRV untuk menyiarkan secara langsung music gamelan dari solo kle belanda untuk mengiringi Gusti Nurul (Putri Sri Mangkunegor5o VI) membawakan tari Bedhoyo Srimpi di Kerajaan Belanda, Deen Hag tanggal 7 Januari 1937.

Teks pada papan pajang itu menyebutkan bahwa Gusti Nurul, Putri Sri Mangkunegoro VII, menari Tari Srimpi dalam resepsi pernikahan Ratu Yuliana dan Pangeran Benhard di Istana Noordine, Den Hag, pada 1936.

Tarian itu dilakukan dengan iringan gending yang disiarkan secara langsung oleh SRV dari Kota Solo dan dipancarkan ke negeri Belanda. Di Isatna Noordine siaran itu dapat diterima melalui pesawat radio yang kemudian digunakan untuk mengiringi Gusti Nurul menari. Foto ketika Gusti Nurul menari digantung di bagian tengah atas peralatan ini.

Museum Monumen Pers Nasional resmi dibuka pada 9 Februari 1978, menggunakan Gedung Societeit Sasana Soeka yang dibangun pada 1918 atas perintah Mangkunegara VII dengan arsitek Mas Abu Kasan Atmodirono, ditambah beberapa gedung lain yang dibangun pada 1970-an. Monumen ini termasuk dalam Cagar Budaya yang dilindungi.

Pasca likuidasi Departemen Penerangan RI status Monumen Pers Nasional berada dalam Badan Informasi dan Komunikasi Nasional. Setelah Lembaga Informasi Nasional diintegrasikan ke dalam Departemen Komunikasi dan Informatika pada tahun 2005 maka Monumen Pers Nasional menjadi satuan kerja dibawah Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.06/PER/M.KOMINFO/03/2011 tanggal 16 Maret 2011 diputuskan Monumen Pers Nasional adalah Unit Pelaksana Teknis Direktorat Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika.
 

Sumber monumenpersnasional.blogspot dan sumber lainnya

 

 



About admin