Pancasila Menjembatani Disharmonisasi Bangsa

Share Button

Dewasa ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai permasalahan besar terutama menyangkut merebaknya disharmonisasi sosial dimana-mana. Keadaan ini jelas memperlemah kondisi bangsa yang sebenarnya harus sadar bahwa kerukunan nasional mestinya diupayakan agar semakin kokoh. Kondisi bangsa yang kokoh sangat diperlukan karena dua alasan ke dalam dan ke luar. Ke dalam kita harus membangun masyarakat dan negeri agar lebih sejahtera , maju, aman, tertib dan damai. Ke luar kita harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam pergaulan dunia yang semakin kompetitif.

Sejak tahun 1998, kita hidup dalam masa transisi, atau masa transformasi. Transisi seperti itu, sebagaimana perubahan besar terjadi di negara-negara lain di belahan dunia, selalu menimbulkan berbagai fenomena, kecenderungan dan realitas-realitas baru. Transisi kita diwarnai dengan agenda-agenda besar, seperti reformasi, demokratisasi, dan rekonstruksi Indonesia paska krisis.

Kita merasakan muncul semacam disorientasi, penolakan, konflik, kegamangan dan pesimisme, apatisme, demoralisasi, kekosongan, kemarahan, bahkan kebencian dalam beberapa tahun belakangan. Terutama pada awal-awal reformasi disana-sini dan dalam penggalan waktu tertentu yang kita alami bersama-sama. Sebagian sudah dapat kita lewari, sebagian masih kita rasakan sisanya dan sebagian masih terasa mencekam dalam kehidupan kita.

Konflik era Reformasi

Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan manusia ditengah-tengah masyarakat dipenuhi dengan berbagai konflik. Konflik itu berupa antar pribadi, antar kelompok dan antar bangsa yang merupakan bagian dari peradapan manusia. Konflik pada dasarnya merupakan budaya manusia sebagai konsekuensi interaksi sosial. Di satu sisi konflik dapat memberi manfaat positif bagi masyarakat karena konflik merupakan kegiatan dinamik masyarakat untuk menghasilkan jalan keluar atau produk yang lebih berkualitas. Di lain pihak, konflik dapat merugikan jika individu-individu atau kelompok kelompok yang berbeda kepentingan tidak berhasil menyelesaikan masalah secara damai sehingga konflik menjurus kepada penyelesaian yang destruktif.

Terjadinya sejumlah kasus konflik dengan berbagai motif dan bentuk perilaku baik dalam lingkup nasional, daerah maupun antar warga masyarakat menunjukkan betapa besarnya bahaya yang dihadapi oleh bangsa dan negara, dan betapa jauh akibat malapetaka yang harus diderita oleh rakyat. Oleh karena itu, kewaspadaan nasional harus ditingkatkan. Peningkatan ini dilakukan dengan sejak dini mengupayakan agar peristiwa-peristiwa konflik yang membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat tidak terulang kembali atau diminimalisir.

Terorisme internasional yang merebak di Indonesia dan berbagai belahan dunia tidak terlepas dari bentuk konflik. Sejak peristiwa 9 Sepetember 2001 di New York , konflik yang mengait kaitkan dengan agama (Islam) semakin menjadi-jadi. Sehingga terjadi stigma yang negative khususnya dunia Barat terhadap umat Islam.

Dinamika kehidupan di masyarakat termasuk Indonesia mengandung potensi konflik. Disinilah peran dasar negara yakni Pancasila sebagai pedoman dasar dalam perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga Pancasila disamping mampu meminimalisir terjadinya konflik juga diharapkan bisa menyatukan semua perbedaan yang dimiliki bangsa ini. Dengan demikian, bangsa ini mampu bersatu dan membangun negara menjadi bangsa yang maju dan sederajat dengan bangsa lain di dunia. (DP)



About admin