Pancasila Pilar Negara…?

Share Button

Oleh: Ken Swandaru

Garuda Pancasila,
Akulah pendukungmu,
Patriot proklamasi,
Sedia berkorban untukmu,
Pancasila dasar negara,
Rakyat adil makmur sentausa,
Pribadi bangsaku,
Ayo maju-maju,
Ayo maju.maju,
Ayo maju-maju…..
(Lagu Garuda Pancasila, ciptaan Sudharnoto)

Dalam sebuah lomba debat Pancasila yang digelar untuk siswa SLTA di daerah perbatasan, di Kabupaten Sanggau, Propinsi Kalimantan Barat, baru-baru ini, moderator tiba-tiba merubah bait lagu Garuda Pancasila, khususnya yang berbunyi : “Pancasila dasar negara…..” menjadi “Pancasila pilar negara……” Lantunan bait lagu Garuda Pancasila yang diplesetkan itu membuat terhenyak peserta dan suporter lomba debat tersebut.

Terhenyaknya para siswa di daerah perbatasan RI-Malaysia ini, dapat dimaklumi. Sejauh mereka belajar dari SD hingga SLTA, mereka memperoleh pemahaman bahwa Pancasila adalah merupakan dasar negara, bukan pilar negara (baca : pilar kehidupan kebangsaan). Apabila kemudian muncul gagasan 4 Pilar Kebangsaan, yang salah satunya adalah Pancasila, tentu sangat membuat kerancuan berpikir para siswa. Bahkan mungkin kerancuan berpikir bangsa ini dalam mendudukkan ideologi negara sebagai dasar atau pilar.

Pembenaran secara epistimologis yang berdasar pada sebuah kamus bahwa arti pilar salah satunya juga merujuk dasar, tentu sangat artifisial bila konteksnya untuk meletakkan posisi ideologi negara, Pancasila. Gagasan 4 Pilar Kebangsaan, yang konon dianggap sebagai ide genuine Ketua MPR RI Taufik Kiemas, mulai dipersoalkan banyak pihak. Bahkan Rahmawati Soekarnoputri yang notabene adik ipar Taufiq Kiemas sendiri, mensomasi penggunaan kosa kata pilar yang diterapkan untuk Pancasila. Somasi itu menetapkan batas waktu hingga 30 April 2013. Jika MPR tidak menghentikan sosialisasi penggunaan kosa kata pilar untuk Pancasila, maka Rahmawati akan mengambil langkah hukum lebih lanjut. Tentu, rakyat sebagai pemangku kepentingan atas keberadaan idelogi negara Pancasila, menunggu ending dari perdebatan yang esensial ini.

MPR RI sebagai lembaga negara, mestinya tidak menyederhanakan hal yang substansial, seperti persoalan kedudukan Pancasila tersebut. Ide genuine Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR RI atas gagasan 4 Pilar Kebangsaan patut dihargai. Namun, karena yang diwacanakan menyangkut kedudukan ideologi negara, maka gagasan tersebut perlu dikaji secara holistik dengan mempertimbangkan masukan para ahli dan rujukan histori di seputar Pancasila itu sendiri.

Kalau Pancasila yang dipahami bangsa Indonesia sebagai dasar negara, tiba-tiba kedudukannya digeser sebagai pilar, pertanyaannya apakah juga ada keinginan untuk menempatkan paham lain sebagai dasar negara untuk menggantikan Pancasila?

Lingkungan strategisnya sudah memberikan sinyal seperti itu. Isu neoliberalisme, wacana sistem khilafah dan terpaan paham sosial demokrat hingga rumor kebangkitan komunisme, sudah terang benderang mewarnai diskursus publik. Ketika Pancasila yang merupakan dasar negara, kemudian dijadikan pilar, bukankah memberi ruang bagi perebutan pengaruh paham-paham di luar Pancasila, untuk dipaksakan sebagai dasar negara?

Lalu, akankah bait lagu Garuda Pancasila juga berubah seperti yang dilantunkan di atas? Wallahualam bisawab, jawabnya….


2 Responses so far.

  1. Atin says:

    Itulah jeritan hati sebagian besar rakyat Indonesia yang tidak setuju dengan istilah (tidak) asal comot dari MPR yang dapat membiaskan kedudukan Pancasila dikemudian hari.

  2. ananta says:

    Lembaga negara seperti MPR koq justru membelokkan dasar negara. MPR kan banyak orang pintar, tapi buta tidak bisa bedakan mana dasar mana pilar. Coba baca alinea 4 pembukaan UUD 1945. Pahami lagi Pancasila dengan pemahaman literer…………………..


About admin