Pembegalan dan Aksi Main Hakim Bukti Memudarnya Karakter Bangsa  

Share Button

begal

Masyarakat khususnya yang tinggal di area Jabodetabek akhir-akhir ini dihantui ketakutan dan kecemasan menyusul beberapa kasus pembegalan dengan kekerasaan. Beberapa kasus yang marak terjadi antara lain di Depok, Bogor, Bekasi dan terakhir di Tangerang Selatan. Bahkan pelaku tak segan-segan melukai hingga membunuh korban aksi criminal mereka. Aparat kepolisian pun seakan tidak sigap dan jika terjadi kasus baru melakukan tindakan.

Peristiwa mengenaskan terjadi di Pondok Aren Tangerang selatan 20 Februari lalu, ketika secara tragis warga membakar hidup-hidup pelaku pembegalan. Persitiwa itu dipicu lantaran sang begal gagal melaksanakan aksinya dan tertangkap basah sehingga menjadi bulan-bulanan masyarakat. Warga yang tersulut emosi pun melakukan tindakan yang berlebihan dengan memanggang tubuh pelaku dalam kobaran api hingga identitasnya tidak dikenali lagi.

Luapan kemarahan warga terhadap kasus pembegalan memang sudah diluar kewajaran. Hal ini dikarenakan warga sangat emosi dan merasa geram melihat perilaku begal yang kian brutal. Apalagi di media televisi sering diberitakan kasus-kasus pembegalan di Jabodetabek semakin menyulut api kebencian masyarakat. Sehingga ketika memergoki dan menangkap pelaku begal yang sedang beraksi maka ramai-ramai masyarakat menghukum dengan cara mereka.

Semua lapisan masyarakat tentu tidak suka dengan perilaku para begal yang akhir-akhir ini kian nekat dalam aksinya. Apalagi ditengarai bahwa jumlah begal demikian banyak dan menyebar di seantero Jabodetabek. Yang memprihatinkan adalah para pelaku yang tertangkap rata-rata masih remaja bahkan ada yang masih belasan tahun. Namun tindakan mereka telah memancing emosi warga karena dianggap mengganggu keamanan di jalan raya.

Sikap sebagian masyarakat yang main hakim sendiri dengan cara memanggang korbannya bukanlah perilaku yang beradap. Jelas apa yang dilakukan warga dengan menghilangkan nyawa pembegal dengan cara mengenaskan melanggar hukum Negara. Karena setiap warga Negara harus mendapat perlakukan yang sama di mata hukum.

Kasus pembegalan yang bermunculan sejak beberapa waktu lalu. Meski tidak sebanyak tahun lalu, secara kualitas kasus pembegalan meningkat.

“Kalau secara kuantitas dibandingkan 2014, itu (pembegalan) berkurang. Akan tetapi ada peningkatan kualitas,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Martinus Sitompul di Polda Metro Jaya, Selasa (24/2) seperti dikutip detik.com.

Martinus menjelaskan, kualitas yang dimaksud ialah kekerasan yang dilakukan pembegal dalam melakukan aksinya. Dibandingkan 2014 lalu, kasus begal di bawah jajaran Polda Metro yang terjadi sejak 2015 memberikan dampak yang lebih berat. Kini, pelaku pembegalan tak sungkan untuk melakukan kekerasan dengan senjata yang melukai korban, bahkan tewas.

Untuk itu, kepolisian juga meningkatkan penjagaan keamanan khususnya dari segi kualitas. Martinus menyatakan, kepolisian akan lebih sigap lagi dalam menggelar personelnya untuk melakukan pencegahan terjadinya kasus kejahatan. Polisi juga akan melakukan penyamaran agar lebih mudah menjerat pelaku pembegalan.

Selain adanya peningkatan pengamanan, Martinus juga mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan di mana pun berada. Jika tidak ada keperluan yang mendesak, lebih baik masyarakat tidak berpergian seorang diri saat malam hari dan di wilayah yang rawan.

Ada beberapa kriteria lokasi rawan yang dijelaskan oleh Martinus. Pertama, pernah terjadi suatu tindak kejahatan di lokasi tersebut. Kedua, lokasi yang rawan biasanya cendrung sepi. Ketiga, lokasi yang rawan biasanya tidak dilengkapi penerangan yang memadai, atau bahkan tanpa penerangan. Terakhir, lokasi yang rawan biasanya memiliki mobilitas kendaraan dan orang yang terbatas. Sehingga, di saat tertentu situasi di lokasi tersebut ramai akan tetapi di waktu lain cenderung sepi.

Merosotnya Karakter Bangsa

Berbagai aksi pembegalan dan reaksi warga yang berlebihan adalah cermin kemerosotan mental anak bangsa. Apalagi pelaku pembeglan masih di usia belasan atau dua puluhan tahun. Aksi nekat mereka seolah mengisyaratkan bahwa mereka tidak memiliki karakter sesuai dengan kepribadian bangsa. Anak muda yang kehilangan kepercayaan diri sehingga nekat melakukan tindakan criminal. Mereka miskin akan nilai-nilai moral, adap dan agama serta jauh dari karakter pancasila.

Demikian juga reaksi spontan warga yang dengan sengaja menghabisi nyawa pelaku dengan cara tragis bukanlah perilaku  masyarakat yang menjunjung adab dan hukum. Pembalasan atau aksi balas dendam warga seperti itu tidak pantas dilakukan karena ada pihak lain yang berwenang yakni aparat kepolisian. Aksi massa di Tangerang Selatan mencerminkan karakter bangsa yang luhur telah luntur. Merka lebih mengedepankan emosi sehingga malah berujung tindakan pidana pembunuhan.

Inilah peran yang harus diambil kepolisian, dan tokoh masyarakat serta elemen yang terkait. Kepolisian sebagai aparat keamanan harus memberi rasa aman pada warganya, memberantas para pembegal dan memproses hukum para pelaku pembegalamn sesuai hukum yang berlaku. Tokoh masyarakat pun harus member kesadaran pada masyarakat untuk lebih siaga mengamankan lingkungannya dan menghondari tindakan main hakim sendiri pada pelaku.

Pemerintah harus bertindak dengan slogan revolusi mental yang selama ini digadang-gadang. Pembenahan karakter bangsa sedang diambang kemosotan yang tidak wajar, sehingga Negara harus turun langsung melalui berbagai program perbaikan karakter bangsa.  Diharapkan dengan adanya pembinaan karakter, mampu meminimalisir setiap tindakan masyarakat yang melanggar hukum.

 

Dudun Parwanto

Pemerhati Masalah kemasyarakatan



About admin