Suasana Darurat Penyusunan UUD 1945

Share Button

Ketika pemerintah Jepang mulai melihat bahwa kekalahan dalam perang dunia ke II sudah di depan mata, maka untuk mengantisipasi munculnya pemberontakan di seluruh wilayah pendudukannya, pemerintah Jepang mengambil kebijakan memberi janji kemerdekaan pada bangsa-bangsa di wilayah pendudukan, termasuk Indonesia. Menanggapi kebijakan ini, maka dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tanggal 28 Mei 1945 dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 7 Agustus 1945.

BPUPK mendapat tugas untuk mengumpulkan bahan masukan yang berkaitan dengan Indonesia merdeka berupa Dasar Negara, bentuk dan wilayah Negara, Konstitusi dan masalah esensial lainnya yang berkaitan dengan Indonesia Merdeka. BPUPK melaksanakan dua kali sidang resmi, yang pertama pada tanggal 28 Mei-1 Juni 1945 dan yang kedua pada tanggal 10-17 Juli 1945. Selama masa reses antara sidang resmi pertama dan kedua ada sidang-sidang tidak resmi dari panitia kecil untuk mempersiapkan Pembukaan Undang-Undang Dasar serta Rancangan Undang-Undang Dasar.

Pada hari pertama sidang tanggal 28 Mei 1945, dilakukan kegiatan seremonial upacara Pelantikan BPUPK oleh Pimpinan Tertinggi Pendudukan Jepang di Jakarta dan Sidang BPUPK. Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, selain menyampaikan usulan Dasar Negara, Ir Soekarno juga menyampaian pidato antara lain;

“…Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang maka di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang saya katakan dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini “zwaarwtchtig’ akan perkara-perkara kecil, kata orang Jawa “jelimet”…. ….Maaf P.T Zinukyokutyoo, berdiri saya punya bulu kalau membaca tuan punya surat yang minta pada kita supaya dirancang sampai jelimet hal ini dan hal itu. Kalau benar semua itu harus diselesaikan lebih dahulu sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semua tidak akan mengalami Indonesia Merdeka sampai di liang kubur… (tepuk tangan hadirin meriah)”

“….Kemerdekaan itu adalah suatu jembatan, suatu jembatan emas. Saya katakan dalam kitab itu di seberang jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat … Dengan nyata-nyata kita punya semboyan Indonesia merdeka sekarang bahkan 3 kali sekarang Indonesia merdeka, sekarang, sekarang, sekarang (tepuk tangan riuh)”

Dokumen Pernyataan Kemerdekaan

Itulah suasana kebatinan yang meliputi penyusunann Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar, dimana ada keinginan kuat untuk segera merdeka dengan memprioritaskan hal-hal yang mendasarai kemerdekaan terlebih dahulu, tidak perlu jelimet, nanti sesudah melewati jembatan emas (kemerdekaan) itulah baru disempurnakan masyarakat  (diantaranya undang-undang dasar).

Sidang-sidang BPUPK diikuti oleh Petinggi Jepang baik dari komando militer maupun pemerintahan militer. Kehadiran mereka ikut mempengaruhi suasana kebatinan penyusunan undang-undang dasar saat itu. BPUPK mencoba menyusun suatu dokumentasi pernyataan kemerdekaan mirip Declaration of Independence nya Amerika Serikat, yaitu dokumen Pernyataan Kemerdekaan.

Isi dokumen antara lain alasan-alasan mengapa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dalam dokumen tersebut peran pemerintah Jepang banyak dimasukkan. Namun pada tanggal 18 Agustus 1945, saat hari pertama sidang PPKI, dokumen pernyataan kemerdekaan ini dinyatakan batal. Kita wajib bersyukur karena apabila tidak dibatalkan maka akan menjadi dokumen kemerdekaan RI yang tertulis peran pemerintah Jepang membantu kemerdekaan Indonesia. Hal ini akan membuat hutang budi sepanjang sejarah. Alasan dokumen ini dibatalkan karena Jepang sudah menyerah terhadap pasukan Sekutu.

Para Founding Fathers yang sedang menyusun Undang-Undang Dasar sudah menyadari penuh bahwa sebentar lagi Perang Dunia II akan selesai dengan kemenangan di pihak Sekutu dan tentara sekutu sebentar lagi akan mendarat di Indonesia termasuk di pusat kekuasaan Jakarta. Pendiri bangsa sudah mengetahui kehadiran Sekutu akan diboncengi Netherland Indies Civil Administration bentukan pemerintah Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Menyadari hal itu, maka keinginan untuk segera merdeka kuat sekali karena kondisi darurat yang baru sudah membayangi di depan mata . (DP)



About admin