Monthly Archives: November 2021

Nilai Dasar Sila Keempat dalam Pancasila

Sila keempat Pancasila mengandung nilai dasar yakni setiap permasalahan diselesaikan melalui mufakat. Dalam kehidupan bersama, bangsa Indonesia menjunjung tinggi mufakat yang dicapai dengan musyawarah. Ini tiada lain merupakan penerapan kedaulatan rakyat atau demokrasi dalam segala segi kehidupan.

Jika kita tinjau lebih dalam, demokrasi berkaitan dengan hakekat dan harkat manusia dalam mencapai cita-cita hidupnya. Dalam interaksi tersebut diatur hak, wewenang dan kewajiban masyarakat untuk terlibat dalam suatu usaha bersama (anggota, warga Negara , warga dunia). Pengaturan hak, wewenang dan kewajiban itu memberi ciri dalam berbagai bentuk demokrasi.

Indonesia mengenal demokrasi dalam bentuk demokrasi Pancasila. Dalam penentuan keputusan, demokrasi Pancasila tidak mengutamakan voting atau pemungutan suara, separuh jumlah tambah satu dan persentase mayoritas. Pelaksanaan demokrasi yang seperti itu digunakan oleh Negara-negera berpaham demokrasi liberal.

Dalam pelaksanaan demokrasi Pancasila , setiap orang dibenarkan ikut serta dalam musyawarah untuk mengambil keputusan. Mereka dapat mengeluarkan pendapat, pikiran dan pandangannya. Namun pandangan tersebut harus didasarkan pada pemikiran dan akal sehat manusia atau didasarkan pada pemikiran yang rasional dan bermutu tinggi.

Bermutu tinggi berarti berkualitas dan tidak bertentangan dengan kepentingan rakyat, persatuan dan kesatuan bangsa serta dasar Negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang kita sebut dengan Pancasila. Jadi setiap perbedaan dalam iklim demokrasi Pancasila dipecahkan melalui kesepakatan bersama atau mufakat. Apabila mufakat telah tercapai, maka setiap orang wajib dengan ikhlas dan legowo menerima dan melaksanakan keputusan tersebut dengan sebaik-baiknya. (DP/ diedit dari dok BP7)

Mari Mengheningkan Cipta 45 Detik untuk Pahlawan Bangsa

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. “ Hari Pahlawan selalu kita peringati setiap tanggal 10 November,  karena, pada tanggal itu di tahun 1945,  banyak pahlawan kusuma bangsa yang berguguran, tepatnya di Surabaya. Untuk mengenang Patriotisme arek-arek Suroboyo, hari ini Presiden Joko Widodo akan memimpin upacara Hari Pahlawan secara Nasional di Tugu Pahlawan, Surabaya.

Sebagai bentuk penghormatan kepada para Pahlawan maka pada hari ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengajak masyarakat mengheningkan cipta secara serentak di masing-masing daerah.

“Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, mari kita mengheningkan cipta selama 45 detik secara serentak pada 10 November 2015 pukul 08.15 waktu setempat,” demikian imbauan Kemkominfo yang disebarluaskan melalui pesan singkat, Senin (9/11/2015).

Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan menjadi inspektur upacara bendera pada peringatan Hari Pahlawan di Surabaya pada Selasa, 10 November 2015. Upacara bendera ini dijadwalkan berlangsung tepat pukul 08.00 WIB. Selain Jokowi, dijadwalkan turut hadir Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa beserta sejumlah menteri lain yang tergabung dalam Kabinet Kerja.

Pemilihan lokasi di Surabaya, oleh pemerintah karena untuk mengenang perjuangan rakyat Surabaya melawan penjajah. Pertempuran Surabaya adalah peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Pertempuran itu meletus karena terbunuhnya satu diantara petinggi militer Sekutu di Surabaya yakni Brigadir Jenderal Mallaby.

Kemudian penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.

Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 – 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada 10 November 1945 kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh bangsa Indonesia.